Tat Wam Asi sebagai Sarana Instrospeksi Diri

  • Admin Kesrasetda
  • 08 Pebruari 2019
  • Dibaca: 363 Pengunjung

 

 

Tat twam asi adalah kalimat Sanskerta. Secara harfiah, kalimat ini berarti "Itu adalah kau" (jika dipadankan dengan bahasa Inggris dari rumpun bahasa Indo-Eropa maka diartikan That thou art, atau That you are, atau You are that, atau You are it).

Kalimat ini merupakan salah satu Mahāvākya (Semboyan Utama) dalam Sanatana Dharma berlandaskan Weda. Mulanya kalimat ini muncul dalam kitab Chandogya Upanishad6.8.7, dalam dialog antara Udalaka dan putranya, Swetaketu; kalimat ini muncul pada bagian akhir, dan diulang-ulang pada bagian selanjutnya. Makna kalimat ini adalah sang diri—dalam kondisi asli, murni, tulen—merupakan bagian yang identik atau persis dengan kebenaran sejati yang merupakan dasar atau asal dari segala fenomena di dunia.

Dalam Awadhutagita (1.25), kitab pedoman pergurunan Adwaita, terdapat sloka yang menyebut Tattwamasi pada baris pertama:

tattvamasyādivākyena svātmā hi pratipāditaḥ / neti neti śrutirbrūyādanṛtaṁ pāñcabhautikam //25//

Perguruan Adwaita yang didirikan Adi Shankara menekankan pentingnya Mahāvākya tersebut (dan tiga lainnya dari tiga Upanishad lainnya). Tat twam asi berarti "itu adalah kau". "Kau" di sini mengacu pada substrat yang tak lepas dari setiap individu. Hal tersebut bukanlah tubuh, pikiran, panca indra, atau sesuatu yang dapat teramati. Hal tersebut adalah sesuatu yang paling dasar, jauh dari segala sifat keakuan. Dalam pengertian ini, "kau" berarti atman. Entitas yang dimaksud dengan kata "itu", menurut Weda, adalah Brahman, realitas yang melampaui segala sesuatu yang terbatas.

Perguruan Weda lainnya memberikan penafsiran yang berbeda-beda mengenai kalimat tersebut:

  • Suddhadwaita: kesatuan dalam "esensi" antara 'tat' dan diri individu; namun 'tat' adalah keseluruhan, sementara sang diri hanyalah bagian.
  • Wisistadwaita: identitas diri individu sebagai bagian dari keseluruhan yang dinyatakan oleh 'tat', yaitu Brahman.
  • Dwaitadwaita: kesamaan dan perbedaan yang setara antara sang diri sebagai bagian dari suatu keseluruhan yang dinyatakan dengan 'tat'.
  • Acintya Bheda Abheda: kesatuan dan perbedaan yang tak terpikirkan/sulit dibayangkan antara sang diri sebagai bagian dari keseluruhan yang dinyatakan dengan 'tat'.

Dalam perkembangan dan waktu sekarang banyak orang mengucap dengan gamblang Tat Wam Asi sebagai Bahan Instropeksi diri, dimana secara umum dapat diartikan Aku adalah Kamu atau sebaliknya Kamu adalah Aku,  dapat juga kita kupas arti yang mendalam halnya kata Aku dan Kamu ini tidak terlepas dalam satu ikatan sebab akibat, jadi makna yang tersirat adalah tidak ada waktu untuk menyalahkan, menilai bahkan mencela akan keadaan yang terjadi setiap hal yang terjadi pada diri kita sendiri dan sekitar kita.

Dalam sepanjang perjalanan hidup setiap insan dilandasi akan Pikiran, Perkataan dan Perbuatan, dengan patokan Benar dan Salah dan yang pastinya sebuah Batasan, batasan ini tak lepas dari Kemampuan berpikir, Berbuat, dan berkata. Tanpa kita sadari setiap orang masih saja menyalahkan orang, keadaan yang terjadi atas tindakan yang diperbuat secara disengaja ataupun tidak sengaja dengan batasan dimaksud. Tat Wam Asi mengajarkan kita akan pentingnya memahami diri sendiri dan lingkungan sekitar, bawasannya apa yang terjadi disekitar semua berawal dari diri sendiri dan akan kembali pada diri kita sendiri. Seperti halnya dalam ungkapan Pepatah  ‘’ Apa Yang Kamu Tabur, Itulah yang Kamu Tuai’’ Sesungguhnya engkau tidaklah akan memetik hasil dari menanam duri, buah anggur" Makna pepatah tersebut begitu dalam dan luas jika kita terapkan dalam kehidupan kita. Menanam duri bisa berarti melakukan perbuatan yang menyakitkan orang lain. Jika "duri" yang kita"tanam" untuk orang lain, jangan harap kita akan mendapatkan"buah anggur" sebagai hasilnya. Yang akan kita dapatkan, ya "duri"juga. Jika kita mencela dan mencaci orang lain, jangan harap kita akan mendapatkan balasan yang baik dari orang lain. Yang akan kita dapat juga celaan dan makian dari orang. Jika kita menyakiti orang lain, jangan harap kita akan mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang yang kita sakiti. Perlakuan yang sama akan kita dapatkan. Jadi bijaklah dalam berbuat, berkata, menulis atau berkomentar di kehidupan kita termasuk di media sosial seperti facebook, twitter, kompasiana, dll.

Semoga bermanfaat

ditulis oleh : @goesdeasta

Share Post :