21985 / 21446
kesrasetda@bulelengkab.go.id
Bagian Kesejahteraan Rakyat

Numitis

Admin kesrasetda | 05 Agustus 2022 | 21 kali

Numitis yang biasa juga disebut Punarbhawa berarti kelahiran yang berulang-ulang, yang disebut juga penitisan kembali (reinkarnasi).  Di dalam Weda disebutkan bahwa "Penjelmaan jiwatman yang berulang-ulang di dunia ini atau didunia yang lebih tinggi disebut Samsara. Kelahiran yang berulang-ulang ini membawa akibat suatu kondisi kehidupan  suka dan duka. Samsara atau Punarbhawa ini terjadi oleh karena pengaruh duniawi masih sangat kuat, sehingga daya tarik terhadap jiwatman ke duniapun akan kuat pula. Hal ini terjadi karena manusia yang terdiri dari trisarira; stula sarira (badan kasar), suksma sarira (badan astral) dan antakarana sarira (jiwatmaan).

Lahir, hidup mati adalah sebuah bangunan proses kehidupan. Ini artinya kematian yang merupakan bagian dalam kehidupan ini adalah suatu proses pemisahan ketiga unsur trisarira itu; stula sarira yang terdiri dari pancamahabuta (api, angin, tanah, air dan either) akan dikembalikan keasalnya, sedangkan suksma sarira merupakan bangunan yang terdiri  dari sesarining panca mahabuta yang menyelimuti sang jiwatman (seperti balon udara) akan bergerak di alam astral.

Dalam Adiparwa kita mendapatkan literasi ketika sang raja Wirata mendengar ketiga anaknya (Utara, Seta dan Wiratsangka) gugur dalam perang terbunuh oleh Kaurawa didalam “mucuki” laga perang Baratayuda. Sang Raja bertanya kepada Shri Kreshna, kenapa itu terjadi. Tidak satupun tertinggalkan semua ya semuanya harus mati. Shri Kreshna menjawab bahwa lahir hidup mati adalah sebuah proses dalam kehidupan dan setiap atman mengharapkan dapat seperti yang putranda lakukan yang gugur sebagai ksatria, atmannya akan bergerak seperti mega yang akan tertiup angin sesuai dengan kodradnya menuju sangkan paraning dumadi, sehingga tidak lagi tertarik oleh pengaruh “gravitasi” duniawi. Itulah sesungguhnya kehidupan yang mampu memangkas kelahiran yang berulang (punarbawa) Ini artinya sang atman sudah tidak bisa berbuat banyak hanya mengikuti arus angin bertiup.

Jika “gravitasi” terhadap jiwatman masih kuat, maka sang jiwatman itu akan termagnitisir kembali ke bumi melalui “magnit spiritual” pertemuan antara sukla dan swanita. Pertemuan sukla dan swanita inilah sesungguhnya yang akan menarik populaning tatwa seru sekalian alam yang ada disekitarnya. Karena hal ini menjadi hukum berlaku bagi semua kehidupan apakah berwujud sebagai manusia dan atau binatang. Sudah barang tentu akan menyesuaikan “warna / frecuensi signyal” magnit yang dipancarkan. 

Menurut pustaka Sarasamuccaya, khusus bagi manusia yang dianugerahi dengan perangkat spiritual yang disebut wiweka untuk memilah dan memilih sesuatu barang dan atau keadaan baik atau buruk, maka tidak mengherankan jika antara orang tua (bapak dan ibu) dengan si anak memiliki persamaan warna secara phisik seperti; warna kulit, DNA bentuk wajah dansebagainya maupun mental spiritual seperti sifat, watak sikap dll.

Jika ditelisih lebih jauh kata kuncinya untuk mendapatkan suputra. Su berarti lebih putra berarti anak jadi suputra dimaksudkan sebagai anak yang lebih baik. Setiap keluarga pasti mengidam - idamkan anak suputra. Menurut pustaka Kamasutra menjelaskan bahwa ketika terjadinya pertemuan antara sukla dan swanita mampu menginstal magnit yang dapat memagnitisir populaning tattwa berdasarkan ajaran dharma artinya dilakukan berdasarkan; leres (kebenaran), lurus (kesucian) laras (berbudaya).

Sebuah literasi sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu yang merupakan bahagian Ramayana yang mengisahkan bahwa ketika begawan Wisrawa mengikuti sayembara pembabaran sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu kepada Dewi Sukesi, sang begawan terpapar nafsu birahi dengan sang dewi, sehingga hubungan sanggama tidak bisa terhindarkan. Akibat yang terjadi pertemuan sukla dan swanita yang dibangun oleh Dewi Sukesi dengan /begawan Wisrama, ketika;

•        Diwarnai dengan penuh nafsu kebirahian sebagai signal yang dipancarkan, populaning tattwa yang tertarik adalah yang memiliki frecuensi yang sama, maka terlahirlah sebagai Rahwana dan Sarpakenaka yang keduanya memiliki warna yang sama dengan sifat nafsu birahi yang digambarkan sebagai rajas (jagad kepengin diemperi).

•        Warna signal yang dipancarkan sudah ada kesadaran (sudah diketahui sang ayah prabhu Somali dan dilakukan wiwahasamskara) namun watak keraksasaannya masih mengemuka, maka yang terlahir Kumbakarna. Kumbakarna digambarkan sanadyan warna diyu suprandene nggayuh utami. Sifat dan sikap yang dimiliki adalah watak tamas kepengin ketenangan enak lan kepenak.

•        Kesadaran sudah mulai mengkristal sehingga pancaan magnitnya sdah bermuatan kebenaran, maka yang tertarikpun sama sehingga terlahir Gunawan Wibisana yang memiliki sifat satyam.

Sementara itu Rta adalah hukum yang mengatur dinamika alam semesta. Hukum Rta yang menggerakkan bertiupnya angin, turunnya hujan, ombak di lautan, pergerakan matahari, pergerakan planet, pergerakan bulan, pergerakan komet, dan lainnya. Termasuk juga datangnya segala macam bencana alam seperti tornado (angin puting beliung), badai, gunung meletus, gempa bumi, dan bencana alam lainnya.

Didalam perkembangannya di jaman kaliyuga manusia dalam kecenderungannya merusak tatanan Rta itu dengan pemberdayaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih. Kurang peduli terhadap ekosistem alam dengan dalih kebutuhan yang diwarnai; lebih banyak nggruwak (take) dari pada ngguwak (gave) tanpa menjaga keseimbangannya. Sebagai akibat yang terjadi adalah disharmonisasi hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya. Jika secara sekala dapat dengan dikenali secara phisikal, padahal Hindu memandang alam secara utuh sekala dan niskala. Bagaimana pengaruhnya secara niskala? Rta akan lebih cepat mendahului kodratnya.( dari berbagai sumber, )-----------------------------

 

Oleh Putu Mahesa Utari, S.Sn