21985 / 21446
kesrasetda@bulelengkab.go.id
Bagian Kesejahteraan Rakyat

Bupati Buleleng Muspayang Bhakti Piodalan di Pura Merajan Kanginan Besakih

Admin kesrasetda | 25 Desember 2021 | 31 kali

Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, ST laksanakan Muspayang Bhakti Piodalan di Pura Merajan Kanginan Besakih bersama Pimpinan SKPD se - Kabupaten Buleleng yang dimana pada kesempatan ini juga di hadiri  Oleh Bapak Wakil Gubernur Bali beserta Pimpinan SKPD Provinsi Bali, pada Rahina Tumpek Klurut, di Pura Merajan Kanginan Besakih Desa Adat Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem Sabtu ( 25/12 )

Upacara dipuput oleh Ida Sri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun dari Kedhatuan Kawista Belatungan Pupuan Tabanan. Upacara Piodalan di Pura Merajan Kanginan Besakih jatuh setiap Rahina Tumpek Krulut yang dilaksanakan oleh Pengempon Pura dalam Kerjasama dengan Pemkab Buleleng melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Buleleng. Upacara berlangsung dengan Hikmad dengan tetap Menerapkan Protokol Kesehatan

Pura Merajan Kanginan adalah Pura tempat dipujanya dan distanakan Bhatara rambut Sedana dan terdapat pelinggih untuk memulyakan Empu Bharadah dan Bhatara Indra,  Hyang Bharadah adalah seorang tokoh sejarah yang telah ikut berperan aktif dalam membangun peradaban di tanah Jawa ditandai dengan terbentuknya Kerajaan Daha, Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Panjalu. Hyang Bharadah yang berasrama di suatu daerah pegunungan bernama Lemah Tulis adalah seorang pandita yang arif bijaksana dan dipercaya sebagai purohita kerajaan ketika bertahtanya raja Airlangga di Kerajaan Daha tahun 1019-1042.

Bagi masyarakat Bali, figur Hyang Bharadah telah dikenal luas berdasarkan ungkapan naskah-naskah tradisonal yang diimplementasikan melalui karya seni rupa dan seni pertunjukan baik drama tari topeng, calonarang, dan sejenisnya. Berdasarkan keyakinan masyarakat Bali, bahwa tokoh Hyang Bharadah telah meninggalkan jejak sejarah yang monumental berupa tempat suci seperti Pura Merajan Kanginan di Pura Agung Besakih sebagai peringatan bahwa sang pandita sempat melakukan pemujaan di tempat suci terbesar di Bali tersebut menurut lontar Sulayang Ghni.(GA)