Hadir mewakili PJ Bupati Buleleng, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Ni Nyoman Sukadani, S.Sos Ngupasaksi dan Puspayang Bhakti Ngusabha Ngeed di Pura Banua Kawan Besakih yang dipuput oleh Ida Ratu Sri Bhagawan Putra Nata Bangli Anom Pemayun dari Kedatuan Agung Alang Sanja. Karangasem. Rabu, 12 Pebruari 2025
Bertepatan dengan hari Raya Suci Pagerwesi dan Purnama Kaulu, Ngusaba Ngeed adalah upacara yang dilakukan di Pura Banua Kawan, Besakih. Upacara ini diawali dengan mepeed ke beberapa pura, yaitu Pura Manik Mas, Pura Batu Madeg, Pura Kiduling Kreteg, dan Pura Penataran Besakih.
Kata "ngusaba" dalam bahasa Bali berarti upacara selamatan desa atau subak. Upacara ini merupakan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki dan kesuburan yang diberikan.
upacara Ngusabha Ngeed bertujuan Memohon kemakmuran Kehadapan Ida Bhatara Sri sebagai manifestasi Ida Hyang Widhi Wasa sebagai Dewi Kemakmuran dan Bhatara Rambut Sedana Manifestasi Beliau sebagai Dewa yang mensejahterakan umatnya melalui perekonomian dan Dana.
Prosesi Ngusabha Ngeed diawali dengan nedunang Ida Bhatara Rambut Sedhana dan Ida Bhatari Sri di Palinggih Pangaruman Agung Pura Penataran Agung Besakih. Dua buah jempana (joli) Ida Bhatara dan Bhatari lalu diusung menuju Pura Manik Mas di ujung selatan kawasan Pura Agung Besakih dan dilakukan upacara pamendak di jaba pura Banua Kawan (linggih Ida Bathari Sri). Pura Manik Mas dipandang sebagai pasucian agung yang mampu ngeseng sarwa cemer (terdapat palinggih Cemara Geseng) dan juga dipandang sebagai inti bibit (manik mas).
Usai ritual dan persembahyangan di pura Manik Mas, dua jempana Ida Bhatara-Bhatari diusung menuju pura Batumadeg di sisi barat laut pura Penataran Agung Besakih yang dalam konsep Catur Lokapala diyakini sebagai sthana Ida Bhatara Wisnu (berbeda dengan konsep pakideh Pura Basukian sebagai Puseh Jagat yang juga disebut sebagai linggih Ida Bhatara Wisnu). Usai pemujaan di ”titik air” prosesi dilanjutkan ke ”titik panas” di pura Kiduling Kreteg yang dalam konsep Catur Lokapala dipandang sebaga sthana Dewa Brahma (panas atau api). Air dan panas dalam pandangan Hindu terhadap alam semesta adalah konsep kesuburan, kelestarian hidup dan siklus air yang menjadi tumpuan daerah agraris dan tropis.
Tahap keempat adalah pemujaan di Pura Penataran Agung seusai pemujaan di Pura Kiduling Kreteg. Pura Penataran Agung Besakih dengan palingggih utama Padma Tiga dipandang sebagai sthana Dewa Siwa dalam tiga perwujudan, yaitu Siwa, Parama Siwa dan Sadha Siwa. Dewa Siwa dalam konsepsi Hindu di Bali dipandang sebagai Ida Hyang Widhi Wasa penguasa alam semesta sehingga dalam ritual Hindu di ”konstruksi” lewat konsep Eka Dasa Rudra, Panca Bali Krama, Tri Bhuwana dan berakhir ke satu titik pemujaan Eka Bhuwana, Sang Hyang Tunggal - Tuhan Yang Maha Esa. Pada prosesi di Pura Penataran Agung, dua jempana Ida Bhatara-Bhatari ditempatkan di palinggih pesamuhan agung dan dilakukan persembahyangan untuk memohon restu Ida Hyang Widhi Wasa.
Prosesi terakhir diselenggarakan di Pura Banua Kawan. Dua jempana Ida Bhatara-Bhatari kembali diusung dari Pura Penataran menuju Pura Banua Kawan. Di pura Banua Kawan ini pralinga (arca) Ida Bhatara-Bhatari dikeluarkan dari jempana dan ditempatkan berjajar di altar palinggih Pesamuan Pura Banua Kawan layaknya sepasang penganten. Ritual dilanjutkan dengan pemujaan dan persembahyangan diakhiri dengan penyerahan tipat-bantal sebagai sarana pemberkatan suatu pernikahan. (GA)